Menjelang adzan Isya' rengekan Utbah berubah menjadi tangisan. Dari belakang muncul Ukkaasyah, "Ayo Utbah, Mas mau bantu", katanya. Saya pun jongkok agar bisa saling tatap mata dengan Utbah. Suasana hati saya cukup tenang dan bisa bersikap amat wajar menghadapi kondisi ini.
Sebelum Utbah merengek lalu menangis, kondisinya begitu tenang. Kakak beradik yang shalih beranjak dari kegiatan mewarnai untuk mengambil air wudhu. Saya yang lebih dahulu wudhu mengingatkan mereka. "Ayah sudah selesai PGW lho", sambil mengambil sajadah imut hadiah dari neneknya saat kami berkunjung ke Banjarnegara. Istilah PGW kami buat untuk mengungkapkan kegiatan "Pipis, Gosok Gigi, dan Wudhu".
Utbah masih menangis dan meminta saya membantunya menyelesaikan PGW. Saya bertahan memberikan kesempatan kepada Ukkaasyah. Meski saya melihat Ukkaasyah telah membuat adiknya menangis karena suatu sebab. Tapi saya tidak perlu menguraikan kenapa dan kenapa ia menangis. Bagi saya fokus pada menuntaskan saling membantu pada kegiatan PGW itu poin utamanya. "Silakan Utbah selesaikan kegiatannya. Mas Ukkaasyah bersedia membantu", pinta saya dengan nada datar.
Saya berharap langkah itu membuat rasa saling percaya antara kakak dan adik. Kesadaran anak kita tumbuhkan dalam kegiatan sederhana. Tanggung jawab saling membantu ingin saya tanamkan dalam peristiwa yang mereka hadapi.
Tante datang, dan membuat Utbah mengalihkan permintaannya. "Aku mau dibantu tante", sambil tetap merengek. Dan saya tetap tegaskan dengan kalimat lembut. Agar Utbah menyelesaikan kegiatannya dengan Mas Ukkaasyah. Saya tetap percayakan kepada Ukkaasyah yang tetap berdiri memperhatikan negosiasi saya dengan Utbah.
Masih berontak. Lalu saya ambil sikap mengangkatnya dan mengarahkan ke Ukkaasyah. Dan tangisan terus berkelanjutan. Bagi saya pembelajaran saling percaya itu lebih penting ketimbang saya menghentikan tangisan dengan bentakan atau suara keras. Dan saat itu Ukkaasyah dengan bahasa santun membantu Utbah menyelesaikan PGW-nya.
Rasanya malam itu saya begitu bahagia lantaran telah menanamkan sikap saling percaya kepada generasi yang nanti akan menggantikan kita. Kepercayaan ingin kami tumbuh suburkan dalam proses pendidikan dalam keluarga. Kami yakin dengan seyakin-yakinnya, bahwa anak-anak yang sukses akan lahir dari para orang tua yang benar-benar mempersiapkan kesuksesan itu. Sukses bukan barang instan. Sukses adalah proses yang benar dalam memperjuangkan cita-cita.
Wallahu a'lam.
