Minggu, 23 Oktober 2011

BERITA BAIK




Malam ini jadi beda. Terang bulan susu yang terjual di rombong tidak sampai setengahnya. Menyikapi keadaan itu Allah SWT punya cara menghibur hamba yang usahanya dirundung ‘paceklik’.
Becak diparkir seratus meter dari warung kopi mas Zainul. Duduk di bangku warung seorang pria. Kerut garis wajahnya dan sejumlah gigi yang sudah tanggal membuat saya berkesimpulan bahwa pria itu usianya sekitar lima puluh tahun.
Tahu saya seorang penjual terang bulan susu ia bertutur cukup filosofis.
“Yang penting telaten. Jangan berpikir untung. Jangankan untung, ditengok orang saja itu sudah untung!”, ucapnya.
Ia begitu mengalir menceritakan riwayat hidupnya yang penuh liku dan jurang. Ayahnya seorang usahawan sukses. Tiap anaknya mendapat satu rumah. Kios di pasar ada delapan juga untuk kedelapan anaknya. Namun, kesuksesan sang ayah bukan jaminan kesuksesan sang anak.
Sang ayah dengan sepak terjang dunia bisnis yang ampuh mampu memberikan sesuatu yang lebih buat keluarganya. Tapi, pria yang duduk di bangku warung di sebelah saya, justru mendapat ujian berat.
“Istri saya selingkuh. Saya ceraikan. Dan empat anak saya besarkan sendiri. Dari becak, barang bekas, bersih-bersih, dan pekerjaan halal lain, mereka saya rawat. Alhamdulillah. Semua sekolah”, katanya sambil sibuk membuka bungkus rokok.
“Hidup ini kadang di atas, kadang di bawah. Bagi saya seperti kata D’ Masiv, syukuri apa yang ada, hidup adalah anugrah”, dengan melagukan sebaris tembang yang dipopulerkan D’ Masiv.
Begitulah hidup ini. Semua pasti ada hikmahnnya. Jangan berhenti bersyukur, karena kesyukuran itu menjadi pintu gerbang nikmat-nikmat Allah SWT yang lainnya. Segera sambut seruan-Nya. Jangan menunda. Wallahu a’lam.
[AlAhad, Thoul Ki'dah 05, 1432]

SALAH TANGKAP


Satu problem akan melahirkan masalah baru yang lebih rumit jika keputusan diambil secara serampangan. Boleh jadi pertimbangan yang dipakai mengandung cacat ‘permanen’ yang tidak bisa dimaafkan. Ada sudut pandang yang bisa dibenarkan, diseleksi, dimaklumi, maupun cukup didiamkan. Dari sebuah peristiwa indah yang dialami sejumlah insan.
Duduk di suatu jabatan adalah amanah. Tugas dan tanggung jawab harus dijalankan dengan baik. Berusahalah untuk menyempurnakan apa yang menjadi kewajibannya. Bila terjadi kesalahan, ketidaksempurnaan, kekurangan, maupun ketidakpuasan atas kinerja yang dilakukan apa yang harus dilakukan?
Baik yang mengemban amanah maupun pemberi amanah keduanya ada peran aktif. Berkomunikasi dengan santun. Berikan arahan dan bimbingan agar tugas-tugasnya dapat dijalankan dengan baik. Tegur dan ingatkan agar tetap berusaha menjalankan amanahnya dengan baik. Jangan bosan-bosan mengingatkan. Jangan berhenti mengarahkan kepada kebaikan. Tetaplah menjadi pemimpin yang bijak dalam proses pembinaan. Karena setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia pimpin.
Sebagai pemimpin memiliki wewenang untuk memberi tugas atau membebastugaskan dari suatu tanggung jawab. Perlu ditegaskan pemimpin yang baik tentu akan berusaha memberikan pengertian yang utuh atas pemberian tugas maupun pembebastugasan atas suatu urusan. Ketika amanah itu dijalankan tidak sesuai harapan, maka peran pemimpin sebagaimana telah disebut di atas. Ingatkan dan bimbing untuk menjadi lebih baik. Itu mulia.
Namun sikap keliru jika pemimpin tanpa ada komunikasi yang dapat dimaklumi mengambil hak mereka yang diberi amanah. Mereka yang menjalankan tugas tentu mempunyai hak dan kewajiban. Tatkala kewajiban terlaksana kurang sempurna lantas secara sepihak haknya diambil.
Ini sewenang-wenang dan zhalim. Sewenang-wenang atas posisi dan kedudukan sebagai pemimpin yang kapan saja bisa mengambil keputusan tanpa mengambil pertimbangan dari pihak-pihak terkait. Zhalim karena telah mengambil hak orang lain dengan cara bathil. Cara ini menunjukkan kelemahan dalam memimpin. Dalam pikiran pemimpin itu hanya memprioritaskan hak-hak yang harus ia dapatkan. Bukan apa kewajiban sebagai pemimpin yang harus ditunaikan.
Model kepemimpinan seperti ini akan membawa kepada keterpurukan bahkan kehancuran. Sebab sebagai pemimpin ia tidak mampu mengendalikan diri dalam menyikapi persoalan. Ia dikendalikan hawa nafsu yang minta semua yang menjadi bawahannya harus taat dan menjalankan aturan dengan baik. Tapi lupa dengan kewajiban dirinya. Sibuk menghukumi bawahan, lupa akan kewajiban dirinya. Inilah pemimpin tersesat, tidak tahu arah dan tujuan memimpin. Kesasar!
[Al-Khamis, Ramadan 19, 1432 H]

TENAGA DALAM



Ketika mempersiapkan tenaga adalah sebuah keharusan. Dalam setiap kesempatan kita harus terbiasa dengan mempersiapkan tenaga. Baik fisik maupun mental. Mengapa harus terbiasa ? Karena kemungkinan besar kita akan menghadapi sesuatu yang tidak pernah kita rencanakan.Boleh kita berencana. Namun keputusan akhir tetap Allah yang berkuasa. Sedikitpun manusia tidak mampu menolak keputusan Nya. Maka persiapan lahriah dan bathiniyah memang mutlak dibutuhkan kapan dan dimana saja. Jika sewaktu-waktu keadaan mendesak kita tidak gusar, gugup, panik dan sebagainya. Lantaran kita telah memiliki bekal yang cukup prima.Bekal yang perlu kita persiapkan paling utama adalah taqwa. Mempersenjatai diri dengan taqwa. Perangkat lunak yang paling ampuh dalam menghadapi berbagai halang rintang kehidupan. Urusan taqwa memiliki pengaruh yang kuat terhadap orang yang – berusaha menuju – taqwa.Kedua, bekal ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang mendatangkan kebaikan bagi diri. Mampu meningkatkan amal shalih. Dengan menguasai satu ilmu jiwa raganya terpanggil untuk mengamalkan apa yang telah diketahuinya. Biar sedikit yang terpenting terwujud dalam amal. Ilmu yang mengantarkannya menjadi orang yang mengerti akan makna ilmu yang sebenarnya.Ketiga, bekal amal yang konsisten. Ilmu yang sudah membentuk pribadi yang taat perlu perawatan rutin. Sikap konsisten menjadi bekal penting bagi langgengnya amal kebaikan yang sudah dibangun. Agar amal itu tetap terjaga. Warna amal semakin cemerlang. Mencerahkan jiwa yang setiap saat bisa saja tergoda menyimpang. Mewarnai diri dengan kegelapan yang membahayakan.Keempat, bekal hati yang bersih. Hati yang bersih adalah ketulusan. Ketulusan yang utuh. Tulus mengabdi hanya kepada Allah SWT. Hatinnya bersih dari kesyirikan. Tulus meneladani Rasulullah SAW. Hatinya bersih dari hal-hal yang tidak disyariatkan. Tulus mengikuti pemimpin umat. Hatinya bersih sehingga kritis jika melihat penyimpangan yang dilakukan. Tulus berkehidupan sosial. Hatinya bersih dari sifat sombong, dengki, dan dusta.Kelima, bekal fisik yang sehat. Kekuatan raga yang prima harus terjaga. Ingat masa sehat sebelum datang sakit. Manfaatkan, berdayakan, dan gunakan potensi nikkmat sehat untuk kebaikan tanpa putus. Ingatkan semua hak-hak fisik agar mendapatkan porsinya yang wajar. Jangan memaksakan fisik jika ia tidak memiliki kesanggupan dalam mengerjakan. Rawat kesehatan dengan baik. Konsumsi, olah raga, dan istirahat secara teratur. Wallahu a’lam.

MASALAH LAGI



Ketika . . .
Seseorang menghadapi permasalahan ia harus siap. Artinya jauh sebelumnya harus memperiapkan diri. Kehidupan ini bakal menantang arus. Memahami hakekat kehidupan ini sangat berpengaruh dalam bersikap terhadap ujian. Jika orang memahami hidup ini sebagai tempat bersenang-senang dan akhir dari segalanya adalah kematian, maka dapat dipastikan seluruh kehidupannya dicurahkan untuk menggapai kesenangan. Aktivitas fisik maupun mental tertuju pada tujuan senang. Tidak peduli apakah ia merugikan kesehatan atau tidak yang penting senang.
Mungkin sebagian lain berbpendapat bahwa hidup harus berbuat baik. Tujuannya untuk mendapat kebaikan dari orang lain. Karena pada prinsipnya siapa ingin dibaiki orang lain maka berbuatlah kebaikan untuk orang lain. Adanya timbal balik yang seimbang. Mengharap sesuatu dari yang kita kerjakan.
Sementara ada orang-orang yang tulus melakukan kebaikan. Mereka tenang dalam bekerja untuk sebuah tujuan mulia. Tidak mengharap balasan dari manusia. Rela dengan segala konsekuensi yang diterima. Karena keyakinannya ada pada nilai kebaikan pasti terbalas dengan kebaikan pula. Bukan pengharapan kepada makhluk lemah seperti manusia. Kebaikan demi kebaikan dilakukan tanpa dipengaruhi ada dan tidaknya pujian. Untuk sebuah kebaikan, niatkan tulus mengharap ridha Allah SWT. Faidza faraghta fanshab wa ila rabbika farghab.
Sunday, 29 Thoul Ki'dah, 1425 H [05:23:31 am]