Selasa, 29 Januari 2013

LANGKAHNYA PASTI



Pasti masuk surga atau pasti masuk neraka. Itulah pilihannya. Pasti melangkah melintasi derita semu atau bahagia semu yang sebenarnya adalah derita abadi. Langkahnya pasti mendapat konsekuensi setimpal. Langkah-langkah penuh darah dan perjuangan berbeda dengan langkah yang dilengkapi fasilitas dan pelayanan.
Okelah. Pastinya kita semua harus tetap melangkah. Bila berhenti roda zaman akan menggilas tanpa ampun. Kesempatan kita melangkah lebih jauh menapaki lajur kehidupan untuk dipenuhi kebaikan. Agar langkahnya pasti mendatangkan kebaikan yang semakin banyak.
http://i463.photobucket.com
Rasulullah SAW adalah sosok teladan utama bagi manusia yang punya langkah pasti. Bagaimana tidak? Dunia gelap, amoral, tanpa belas kasih, dalam tempo 23 tahun berhasil diubah menjadi cahaya terang yang menyinari seluruh penjuru dunia.
Rasulullah SAW punya FAST. Fathanah yang berarti cerdas. Tentu kecerdasannya tidak diragukan lagi. Bagaimana menjawab pertanyaan sahabat sangat solutif dan kreatif. Ketika ditanya soal berwudhu dengan air laut, Rasulullah SAW justru menyatakan laut itu suci dan halal bangkainya. Solutif dan kreatif. Menjawab esensi dari kebutuhan sesungguhnya.
Amanah sebagai sifat yang melembaga dalam dirinya. Kepercayaan tinggi menjadi pilar kehidupannya baik di tengah keluarga maupun masyarakat. Orang membencinya pun diperlakukan dengan kemuliaan karena amanah kehidupan sosial memerlukan kesantunan dan kebaikan. Balaslah kejelekan itu dengan kebaikan sebagaimana diajarkan.
Shiddiq yang artinya jujur juga sifat utama yang ada pada dirinya. Kejujurannya benar-benar memberikan teladan final dan total. Musuhpun akan memuji karena kejujurannya.
Tabligh. Sifat ini menjadi tanda penting. Sebagai utusan-Nya risalah ini benar-benar tersampaikan. Amanah yang diemban terlaksana dengan begitu indah. Meski jiwanya terancam tetap amanah tak boleh goyah.
Rasulullah SAW juga sosok yang mempunyai sahabat-sahabat yang loyal. Khadijah totalitas membantu da’wah. Abu Bakar Ash Shiddiq hanya menyisakan Allah SWT dan Rasul-Nya. Seluruh hartanya untuk fi sabilillah. Sahabat-sahabatnya yang rela berkorban. Mereka tidak mengharap apa-apa kecuali berjumpa dengan Allah SWT dalam kepasrahan utuh. Mereka ridha dengan ketetapan Allah SWT dan Allah SWT meridhai mereka.
Dan misi Rasulullah SAW adalah membawa kebenaran Ilahi. Maka inilah sejumlah faktor yang mampu mencetak keberhasilan da’wah dalam tempo 23 tahun mengubah status dunia yang gelap gulita menjadi terang benderang. [nas]

Jumat, 25 Januari 2013

PRODUKSI SEMANGAT

Gambar: 4.bp.blogspot.com
Produksi semangat hari ini agak berkurang. Saya sendiri menoleh kanan-kiri. Semua bersemangat. Bahkan sesampai di kantor ada tamu yang begitu bersemangat. Angkat telepon, suara lantang, bicarakan kebaikan dan optimis begitu tinggi. Dalam lima menit saja sudah 3 orang yang ditelepon. Namanya Pak Pardi. Saking semangatnya telepon salah sambung pun bisa saja dijadikan obrolan santai. 

Angkat telepon lagi. Nada sambungnya agak aneh, "Maaf periksa kembali nomor yang anda putar", loudspeakernya mengirim kabar ke telinganya. Nomor tidak terdaftar. Nomor di luar jangkauan. Nomor yang anda putar salah. Nomor ini tidak aktif lagi. Hebatnya, ia tetap semangat membuka daftar nomor telepon yang ia kantongi ke mana-mana. 

Dari obrolan di telepon sangat kental aroma marketing gaya multi level. Ternyata Pak Pardi  adalah seorang marketing Umrah dengan uang muka 3,5 juta. Menjalin relasi dan koneksi. 

Soal umrah dengan modal awal 3,5 juta bukan yang hendak saya bicarakan. Soal semangatnya itu lho.Mengapa orang setua dia, 55 tahun (estimasi) masih cekatan, rela berkorban, dan antusias dalam berusaha. Sementara banyak sekali anak-anak muda yang lemah semangat, kurang bergairah, minta dikasihani, dan menunggu uluran kebaikan orang lain. 

Sudauh sepatutnya yang muda seharusnya lebih bersemangat, lebih banyak ide, lebih cekatan, lebih banyak berkorban, dan jemput rizki. Jangan menunggu. Jadilah pemuda yang bersemangat! Produksilah semangatmu setiap hari dengan ketulusan. Wallahu a'lam.

Kamis, 24 Januari 2013

SUPERNYA MANUSIA

Gambar: im.ft-static.com
Konon orang terhebat itu pemimpin yang membawahi ribuan karyawan. Bener juga sih. Tapi apa ya demikian? Saya pikir-pikir lagi, kok nga juga ya. Sebab ada juga pemilik perusahaan dengan karyawan yang tidak sedikit, ternyata gara-gara tergoda lambaian dan rayuan manis para penghamba dunia ia jatuh tersungkur meregang nyawa tak kenal ampun! 

Byuh, njur sopo rek sing kasebut supering menungsa? Wah jangan-jangan kang suparman juga menjadi kandidat kuat 'Supernya Manusia' versi majalah Alaihum Gambreng Wa Kekekekekek terbitan 2013. Ampun deh, kalau kang suparman yang asli Boyolali jadi calon Supernya Manusia. 

Atau Cak Clark Kent edisi amrik yang bakal menempati posisi itu? Huh, rasanya ya fiktif banget gitu lho! Wong dia masih kalah sama jenis bebatuan dari planet sebelah. Jadi kayaknya doibakal gugur di audisi awal. Nominasi yang tidak begitu diperhitungkan! Ngayal kalleee bro! Wkwkwkwk!

Ngaco lu! 

Serius neh! Yo i! 

Supernya manusia itu bukan karena sanggup menguasai orang lain. Tapi supernya manusia itu karena ia begitu indah menguasai dirinya. Sehingga setiap orang tanpa perintah pun merasakan keindahan itu. Supernya manusia lantaran kekuatan jiwa mengendalikan dirinya. Disebut kuat bukan karena jago gulat! Tapi sebab kesanggupan menguasai diri dalam semua situasi! Sip!




Rabu, 23 Januari 2013

ISINYA OTAK

Gambar: www.corpowerocean.com
"Bro, kalau ente lagi mikirin yang jelek-jelek rasa-rasanye isi di otak ente rada piktor! Pikiran kotor getoh!"

Sepintas lalu kalimat yang terdengar nyolot model begituan tidak perlu ditanggapi serius. Ah, telanjur ditulis ada baiknya kira maknai saja. Mudah-mudahan ada manfaatnye. Gimane bro? Sepakat ye! Owghh. Yeah! (be-te-we) buat menuh-menuhin halaman doang ney bro, sis! Hehehe! Kaga kenape khan!

Owkelah, Langsung saja kita mangslup alias nyelam ke lautan makna. Sejujurnya, otak kita-kita ini tergantung apanya sih? Lha, menurut ahli per-otak-an sel syaraf aktif kita jumlahnya nga ketulungan banyaknya. Apalagi kalau diulur menjadi uraian benang syaraf, wuih, bakal berkali-kali mengelilingi lintasan bola bumi. 

Trus dari mana asal kendalinya bro?!

Maap-maap kate ye! Ane urun pikir neh! Ada pesan Rasulullah SAW yang terkait dengan motif perilaku. Coba, bro-sis, amal itu bergantung niatnye! Itu kan yang kite inget!? Nah tuh !? Bener kan! Tergantung niatnya! Cuma jangan brenti ampe situ doang bro! Carenye juga kudu ngikut aturannye Allah SWT dung! Jangan maen sabet aje! 

Pikiran kotor yang ada di otak kita boleh jadi lantaran kebodohan diri. Kurangnya pengetahuan dan sempitnya wawasan. Sehingga cakupan pemahaman tidak meluas. Ujung-ujungnye, hati kita di setting segede  cangkir teh. Begitu dapet masalah dikit aje, duh, rasa-rasanya masalah amat membebani dan menguras energi. Pikirannya sempit, negatif,dan cenderung kotor. 

Coba kalau jiwa kita di-setting segede samudera! Wow! Luar biasa hebatnya. Gelombang di samudera jauh lebih besar, dan akan dihadapi dengan jiwa yang besar pula! Ya gitulah bro-sis. Setting hati dan pikiran saling terpaut dengan kuat. Makanya, sering-seringlah mengasah diri dengan trip-trip problem solving. Menikmati proses belajar dari pengalaman diri dan membaca kisah orang lain. Semakin manjur jamu kehidupan yang kita minum. Tambah kuat! Otot kawat balung wesi! Semua masalah pasti ada solusi! 

Jadi, apa isinya otak? Cari di dalam jiwamu!

Selasa, 15 Januari 2013

RUMAHNYA BAHAGIA




Gambar: http://rumah.jasablog.net
 Semua perabotan rumah tangga amat lengkap. Kulkas 2 pintu yang berada di ruang makan memudahkan penghuni rumah selesai makan mengambil minuman dingin atau buah segar. Kamar tidur berpendingin plus penghangat menyempurnakan istirahatnya. Kamar mandi di dalam memanjakan penghuninya. Pilihan shower atau kolam mandi air hangat serasa di hotel berbintang-bintang.
Ruang keluarga begitu nikmat. Sofa elegan pabrikan ternama dengan warna cerah begitu menawan. Permadani dilengkapi bantal-bantal empuk berada di depan Smart TV teknologi terbaru. Di sebelahnya ada rak buku dan majalah yang tersusun rapi. Ruang untuk menikmati kebersamaan keluarga.
Fasilitas di rumah ini mengidentifikasi pemiliknya bukan orang sembarangan. Dilihat dari barang-barangnya bukan berkebangsaan Indonesia. Apalagi kendaraan yang setiap hari ia tumpangi, wajib up to date berdasarkan informasi World Biggest Motor Show di negeri seberang. Sepertinya penghuni tumah ini mampu berbenah fisik dengan sempurna.
Tapi mendadak saya terhenyak. Teriakan di ruang makan membungkam seisi rumah. Bentakan dan cercaan dilempar kemana-mana. Salah sedikit kata-kata kasar selalu keluar. Terlambat sekadar 5 menit saja dari janji semula, murka yang kemudian bicara. Tak ada pagi ceria di rumah ini. Siang pun hampa terasa. Sore dan malam pun tak ada senyum dan tawa.
Malang nasib benda-benda di rumah itu. Sekiranya mereka bisa memilih, mungkin saja tak sudi berada di rumah yang tidak ramah. Malang pula nasib penghuni rumah itu. Sepertinya ada yang mendesak untuk diluruskan.
Ayah bunda, ini tentang rumahnya bahagia. Sebenarnya bukan terletak di benda-benda fisik yang ternama tiada tandingannya. Rumahnya bahagia ada di jiwa. Tempat tinggal bahagia bukan di benda-benda itu. Bahagia seharusnya kita persilakan betah di jiwa kita. Wahai bahagia, rumahmu ada di jiwa. Jangan mau terusir oleh akhlaq tercela. Biarkan kesombongan, angkuh, tergesa-gesa, bodoh, dan ragu-ragu pergi selamanya. Dan bahagia tetaplah tinggal di rumahnya bahagia, di jiwa. [nas]



Senin, 14 Januari 2013

INDAHKAN CARANYA

Pagi itu kami bertiga baru menyelesaikan agenda mengantar kue subuh. Sekitar jam 5.45 WIB kami disambut Unaisah yang sedang disuap Umi. Saya masuk ke rumah, sedangkan Utbah dan Ukkaasyah masih berada di teras. 

Perjalanan pulang dari mengantar kue saya bertanya kepada Ukkaasyah, "Mas, kegiatan setelah mengantar kue apa?". "Mandi", jawab Utbah lebih dulu disambung Mas Ukkaasyah yang juga mengatakan hal yang sama. Harapan saya, komunikasi verbal ini menjadi pengingat tanggung jawab pribadi anak-anak. Agar mereka menyadari bahwa mandi itu bukan lantaran ada perintah ayah atau umi. Atau bahkan mandi jika ada hentakan keras dari orang tua. Mereka tumbuh dalam penyadaran tanggung jawab pribadi mereka sendiri. 

Setiba di rumah saya kembali mengingatkan untuk kali kedua. "Mas, kegiatannya apa sekarang?", sambil menyiapkan keperluan pribadi saya. "Mandi", jawabnya singkat seraya menuju tempat mandi

Dinamika pun berjalan. Saya asyik berdiri sambil baca headline koran. Umi masuk ke rumah dan mendapati di dalam gelas minum Unaisah ada kapas. Umi langsung menuju Ukkasyah dan, "Mas Ukkaasyah masukkan kapas ke gelas Unaisah ya?", tanya umi. Saya menyimak

Lalu terdorong untuk mencoba membantu menyelesaikan. Karena saya merasa pertanyaan umi dapat dipahami sebagai tuduhan. Coba redaksinya diubah sedikit, "Kira-kira tempat kapas ada di mana ya? Kok umi menemukan kapas di dalam gelas minum unaisah? Mungkin ada yang bisa bantu umi?", mungkin akan berbeda.

Saya mendekati umi dan mengatakan, "Anak-anak jelas tidak tahu, pulang dari antar kue mereka langsung ke tempat mandi", ucap saya berusaha mendudukkan persoalan. Umi bersikap keras dengan ungkapan bahwa dirinya tidak menuduh Ukkaasyah tapi bertanya. Saya jadi terkejut. O, mungkin saya kurang indah dalam menegurnya. Maka indahkan cara kita berkomunikasi dengan pasangan kita dan anak-anak. Maksud baik tapi cara kurang indah, boleh jadi yang menerima kurang berkenan. 

Saya meminta maaf kepada umi. "Maaf umi atas kejadian tadi", ungkap saya lirih. "Ya udah", katanya. [nas]   

Selasa, 08 Januari 2013

DIRIMU SOLUSIMU

"Ustadz minta tolong", kata seorang santri kepada saya. "Mudah-mudahan saya bisa bantu", sahut saya singkat. Dua santri yang menemui saya saling memandang. Seperti mengisyaratkan siapa yang hendak mengutarakan maksudnya. Akhirnya terbukalah pembicaraan itu dengan satu syarat saya tidak boleh menceritakan kepada siapapun.

Aliran kisahnya nampak emosional dan terputus-putus. Menceritakan bahwa mereka yang nota bene adalah kelas tertinggi merasa dilecehkan oleh adik kelasnya lewat update status di fesbuk. Waaaw. Dan santri ini mewakili teman-temannya meminta bantuan saya untuk mencarikan barang bukti (BB) di status terdahulu.

"Lalu masalah sesungguhnya itu apa?", saya berusaha menelusuri kepekaan mereka. Apakah masalah itu timbul tidak mempunyai latar belakang? Lalu apa yang dipermasalahkan? Jadinya kita tidak salah sikap. "Saya berpikir bahwa sepertinya saya bukan orang yang tepat untuk membantu kalian dalam hal ini", ungkap saya. Yang jadi solusi adalah diri kalian sendiri. Insya Allah itu lebih berkesan.

Saya merasa, jika kalian melibatkan saya dalam persoalan ini justru akan membuat permasalahan baru yang mungkin akan jauh lebih runyam. Insya Allah level masalah ini sangat mungkin dipertemukan dalam ruang bicara hati ke hati yang tulus mengharap ridha-Nya. #nas 

IDENYA ADA SAJA

Ukkaasyah dan Ashfa Afkarina
Jadi orang tua idenya ada saja. Samalah dengan Pak Guru dan Bu Guru. Mesti punya sejuta ide untuk mengalahkan kejenuhan di rumah atau di kelas. Kalau di rumah ayah bunda mesti atur strategi agar ananda bisa melakukan kegiatannya secara mandiri dan penuh kesadaran. Tentu dengan melihat usia perkembangan mereka.

Sewaktu ananda sedang berkutat dengan crayon dan gambarnya sementara kumandang adzan telah menggema kira-kira idenya ayah bunda apa? Jawabannya bisa sangat beragam. Itu tergantung ayah bunda. Sangat tergantung pola komunikasi ayah bunda. Ayo, siapa yang memanggil dari kejauhan sambil rada berteriak. "Mas, kamu dengar adzan tidak? Sudah adzan, mainannya mbok ya ditinggalkan!", seru ayah dari tempat wudhu. Kira-kira apa reaksi anak? Mungkin dia akan membalas dengan berteriak yang tak kalah hebohnya. "Iya, ayah bentar lagiiii", serunya.

Ayah, bunda, efektifkah cara berkomunikasi seperti ini? Jelas sangat tidak efektif. Gantilah kalimat perintah dengan bertanya. Misalnya "Mas, adzan sudah berkumandang. Sekarang waktumu untuk apa?", membangun kesadarannya. Ini pun mesti dilakukan pada zona intim yang berjarak amat dekat. Tidak lebih dari 50 centimeter. Kalau ayah menggunakan zona sosial sebagai pola komunikasi dengan anak, ya, silakan nikmati teriakan-teriakan mereka sepanjang hari. Zona sosial berjarak 3 meter lebih yang sesungguhnya membuat anak tidak menikmati hubungan dengan ayah bunda.

Di zona intim kita bisa melakukan pendekatan dengan menurunkan badan setinggi tubuh anak kita. Kita berusaha menatap wajahnya, matanya, alisnya dengan lembut. Usap punggungnya sambil mengatakan sesuatu yang hendak dibicarakan. Rendahkan suara kita, tetap tegas tapi lembut. Bila ananda hendak bicara, jangan menyela. Berikan kesempatan yang cukup untuk mengungkapkan isi hatinya. Dan tetaplah di gelombang yang tenang. Jangan bergemuruh sedikitpun.

Ayo, ayah bunda, kita tata ulang irama bicara kepada anak-anak. Semoga anak-anak kita tumbuh bersama kreativitas komunikasi ayah bundanya. Mereka akan selalu merindukan apa yang akan dibicarakan ayah bunda. Buat mereka merasakan kehadiran kita benar-benar dahsyat di tengah-tengah mereka. #nas

Senin, 07 Januari 2013

AYAH, JALAN PAGI YUK!

Keep Smile: Utbah Adi Hadi
Utbah masih tampak belum bersemangat. Mas Ukkaasyah mengajak JJP (jalan-jalan pagi). Subuh belum lama berlalu. Utbah masih di dalam tenda yang kami dirikan di dalam rumah. "Utbah, ayah sama mas mau jalan-jalan pagi. Utbah sudah shalat subuh?", sambil menyentuh punggungnya saya katakan rencana pagi itu. "Aku nanti shalatnya", jawabnya. 

Nampaknya saya harus mengatur strategi. Mas Ukkaasyah mulai mendesak supaya segera jalan-jalan. Alur komunikasi Ukkaasyah tidak langsung kepada Utbah. Dia mendesak saya segera ambil sikap. Bahasanya menjadi perintah tinggalkan saja Utbah. Kalau begini mungkin jadi ganjalan nantinya. 

Desakan Ukkaasyah tidak terlalu saya hiraukan. Saya masih tetap fokus memberi pengertian kepada Utbah. Bunda yang sedang berada di kamar tidak terlibat situasi ini. "Utbah, waktu subuh masih cukup. Boleh, kakak shalat 2 rakaat baru kita jalan pagi, bagaimana?", sambil saya meyakinkan Ukkaasyah. 

Tanpa hambatan berat, Utbah berdiri dan langsung ke kamar mandi. Selesai wudhu dia menghampiri Bunda di kamar dan langsung menunaikan shalat subuh. Usai Shalat, Ukkaasyah, Utbah bersepeda, Unaisah digendong ayah jalan-jalan keliling sekitar kampung. 

Disela jalan-jalan pagi kami istirahat di depan pertokoan. Ada kursi kayu panjang yang kami manfaatkan untuk duduk-duduk. Mulailah saya ta'awudz dan membaca surah Al Naazi'aat ayat 1 sampai 10. Saat ini memang Ukkaasyah sedang berproses menghafal surah itu. Pagi itu ia menambahkan bacaan 5 ayat. Meski tidak terlalu lama, saya sedang berusaha menjaga kontinyuitasnya. Semoga membekas dalam kehidupan dan kepribadian anak-anak. Amien yaa Rabb. [nas]

Rabu, 02 Januari 2013

BAHASA CINTA ANAK KITA


Ukkaasyah dan Utbah di Pasar Kambing Bangil @2011
Anak-anak pandai mengungkapkan bahasa cinta. Tapi kadang orang tua tidak merasa. Mereka berlari dari kejauhan menghampiri ayah yang baru pulang dari kerja adalah bahasa cintanya. Tapi apa balasannya, cintanya kadang bertepuk sebelah tangan. Sang ayah justru menampiknya. Meski tidak terlalu kasar, senyum buah hati yang lepas tiba-tiba terhalang ‘kelelahan’ ayah.
Wahai ayah bunda. Selelah apapun berikan cinta dan senyum untuk anak-anak kita. Hiasi hidupnya dengan kelapangan hati kita. Lelah dan letih rasanya masih bisa diatur dengan baik. Rendahkan suara. Sambil membuat ekspresi orang letih dengan tetap meraih pelukannya. “Alhamdulillah, ayah selamat sampai di rumah. Bagaimana kakak hari ini?”, kita mulai membalas cintanya.
Mungkin anak kita akan menceritakan beberapa peristiwa yang dialaminya siang itu. Tanpa mengurangi minat mendengar celoteh anak, kita mengarahkan pada kegiatan yang nyaman buat kita dan anak-anak. “Yuk, kita di dalam sambil ayah mendengar cerita kakak, ayah juga butuh istirahat beberapa saat. Bagaimana?”, kalimat ajakan yang membuat mereka tetap merasakan penghargaan terhadap dirinya.
Semoga ayah bunda mampu menangkap gelombang cinta anak-anak kita. Mereka sesungguhnya amat mencintai kita. Mereka sangat menyayangi kita. Namun seringkali kita para orang tua ‘memaksa’ jalan pikiran ini berlawanan dengan alur beroikir anak-anak. Maka terjadilah orang tua yang zhalim kepada anak-anaknya. Membentak, memarahi, memukuli, bahkan ada yang sampai menghilangkan nyawa anak itu. Na’udzubillah. (nas)