Senin, 31 Desember 2012

MAS UKKAASYAH BERSEDIA MEMBANTU

My Dear Utbah
Dari belakang muncul Ukkaasyah, "Ayo Utbah, Mas mau bantu", katanya.

Menjelang adzan Isya' rengekan Utbah berubah menjadi tangisan. Dari belakang muncul Ukkaasyah, "Ayo Utbah, Mas mau bantu", katanya. Saya pun jongkok agar bisa saling tatap mata dengan Utbah. Suasana hati saya cukup tenang dan bisa bersikap amat wajar menghadapi kondisi ini. 

Sebelum Utbah merengek lalu menangis, kondisinya begitu tenang. Kakak beradik yang shalih beranjak dari kegiatan mewarnai untuk mengambil air wudhu. Saya yang lebih dahulu wudhu mengingatkan mereka. "Ayah sudah selesai PGW lho", sambil mengambil sajadah imut hadiah dari neneknya saat kami berkunjung ke Banjarnegara. Istilah PGW kami buat untuk mengungkapkan kegiatan "Pipis, Gosok Gigi, dan Wudhu".

Utbah masih menangis dan meminta saya membantunya menyelesaikan PGW. Saya bertahan memberikan kesempatan kepada Ukkaasyah. Meski saya melihat Ukkaasyah telah membuat adiknya menangis karena suatu sebab. Tapi saya tidak perlu menguraikan kenapa dan kenapa ia menangis. Bagi saya fokus pada menuntaskan saling membantu pada kegiatan PGW itu poin utamanya. "Silakan Utbah selesaikan kegiatannya. Mas Ukkaasyah bersedia membantu", pinta saya dengan nada datar. 

Saya berharap langkah itu membuat rasa saling percaya antara kakak dan adik. Kesadaran anak kita tumbuhkan dalam kegiatan sederhana. Tanggung jawab saling membantu ingin saya tanamkan dalam peristiwa yang mereka hadapi. 

Tante datang, dan membuat Utbah mengalihkan permintaannya. "Aku mau dibantu tante", sambil tetap merengek. Dan saya tetap tegaskan dengan kalimat lembut. Agar Utbah menyelesaikan kegiatannya dengan Mas Ukkaasyah. Saya tetap percayakan kepada Ukkaasyah yang tetap berdiri memperhatikan negosiasi saya dengan Utbah. 

Masih berontak. Lalu saya ambil sikap mengangkatnya dan mengarahkan ke Ukkaasyah. Dan tangisan terus berkelanjutan. Bagi saya pembelajaran saling percaya itu lebih penting ketimbang saya menghentikan tangisan dengan bentakan atau suara keras. Dan saat itu Ukkaasyah dengan bahasa santun membantu Utbah menyelesaikan PGW-nya. 

Rasanya malam itu saya begitu bahagia lantaran telah menanamkan sikap saling percaya kepada generasi yang nanti akan menggantikan kita. Kepercayaan ingin kami tumbuh suburkan dalam proses pendidikan dalam keluarga. Kami yakin dengan seyakin-yakinnya, bahwa anak-anak yang sukses akan lahir dari para orang tua yang benar-benar mempersiapkan kesuksesan itu. Sukses bukan barang instan. Sukses adalah proses yang benar dalam memperjuangkan cita-cita.

Wallahu a'lam.

Minggu, 25 November 2012

BUNGA UNTUK IBU


Gambar: mawarbhiru.multiply.com
Pagi itu, seorang pria sedang turun dari mobil mewahnya. Ia bermaksud untuk membelikan sebuah kado untuk ibunya di kampung, karena besok hari ibu. Ia bermaksud untuk mengirimkan kado itu lewat pos. Seorang ibu yang pernah ia tinggal pergi untuk kuliah dan mencari nafkah di kota besar. Langkah pria itu terhenti di sebuah toko bunga. Dia melihat seorang gadis cantik sedang memandang lesu rangkaian bunga di depan etalase, ternyata wanita itu adalah adik tingkatnya semasa kuliah.
"Ada apa dengan mu? Dan ada apa dengan bunga itu" tanya si pria. "Aku ingin membeli salah satu rangkain bunga mawar itu untuk ibu." "Seumur hidup saya tidak pernah membelikan ibu saya bunga" jawab gadis itu.
"Kenapa tidak kamu beli saja? Ini bagus, kok" kata pria itu sambil mengamati rangkaian bunga itu. "Uang saya tidak cukup". "Ya sudah pilih saja nanti saya yang akan membayarnya" Pria itu menawarkan sambil tersenyum. 
Akhirnya gadis itu memilih salah satu rangkaian bunga itu, dengan ditemani sang pria gadis itu menuju kasir. Pria itu juga menawarkan diri untuk mengantarnya pulang ke rumah untuk memberikan bunga itu kepada ibunya, gadis itu pun bersedia.
Dua orang itu lalu melaju menggunakan mobil menuju suatu tempat yang ditunjukkan gadis itu. Hati pria itu terperanjat ketika gadis cantik itu mengajaknya ke subuah kompleks pemakaman umum.
Setelah memarkirkan mobil pria itu lalu mengikuti langkah gadis itu. Dengan sangat terharu gadis itu meletakkan rangkaian bunga itu di makam ibunya. Seorang ibu yang memang belum pernah ia lihat seumur hidupnya. Ibunya meninggal saat melahirkan gadis itu.
Melihat kejadian itu, setelah mengantarkan gadis itu pulang, sang pria membatalkan niatnya untuk membeli dan mengirimkannya kado kepada ibunya. 
Siang itu juga pria yang telah sukses langsung memacu mobilnya menuju kampung halamannya, untuk melihat wajah ibunya yang dia rindukan selama ini. Untuk bersujud di bawah kakinya dan memeluk erat tubuh dan hati lembutnya. 
Senyum tulus
Untuk para sahabat yang masih mempunyai ibu, kisah di atas mengajarkan kita arti seorang ibu. Ia tidak menginginkan emas sebesar gunung atau uang belipat lipat. Yang ia inginkan hanya perhatian yg tulus dari anaknya.
mulai sekarang bahagiakanlah ibumu selagi dia masih hidup. Kalau kalian yang baca kisah di atas aku ingin kalian langsung temui ibumu dan berkata "Aku ingin membahagiakanmu sepanjang hidupku". 



sumber http://www.ceritainspirasi.net/bunga-untuk-ibu 

Senin, 19 November 2012

APA YANG DITULIS?




Pertanyaan ini dijawab dengan senyuman dulu. Karena agaknya aneh juga mendengar pertanyaan seperti ini. Mengapa aneh? Ya terang saja aneh. Apa yang ditulis adalah apa yang kita tahu. Karena itu, tulislah apa saja yang kita tahu. Kalau merasa belum ada pengetahuan, isilah otak kita dengan membaca. Membaca ayat-ayat qauliyyah yang termaktub dalam Al Quran dan Hadits dan ayat-ayat kauniyyah di semesta jagad raya ini. Semua berhak dijadikan bahan tulisan. Mulai dari yang kecil-kecil seperti kutil dan kerikil sampai hewan terampil seperti kancil dan reptil. Dari urusan ciut, kecil dan imut seperti semut, sampai perkara besar-besar yang bisa membuat bumi bergetar. Ada penghalang untuk beranjak menulis? Every thing ok, that’s all right. When you think ok, let’s go write!

IDE ASLI DAN AGAK ASLI





Gambar: belajarbahasainggris.us
Tulisan kita adalah apa yang kita tahu. Apa yang dipikirkan. Apa yang ingin kita sampaikan. Gagasan orisinil yang Allah swt titipkan dalam pikiran kita harus dituangkan. Agar ide segar itu bisa menginspirasi orang lain. Kalau ide asli itu bermanfaat untuk orang lain, maka kebaikan tulisan kita bernilai pahala di sisi-Nya.
Ide orisinil kadang tersulut dari percikan ide lainnya. Gagasan agak asli atau agaknya asli bukan hambatan untuk berkarya. Pengetahuan kita, kalau mau jujur, semua dihasilkan dari meniru. Benar-benar asli buatan kita ya ndak ada. Manusia mengelola apa yang sudah ada. Hak cipta hanya milik Allah swt saja. Sudah jelas to! Jangan ragu-ragu menulis, let’s go write!

MANFAATKAN APA YANG ADA



Ayo menulis. Singkat saja untuk menerjemahkan arti judul di atas. Soal benar salah menerjemahkan judul di atas tidak perlu diperdebatkan. Ini hanya bagian kecil dari cara penulis menuangkan idenya. Semua ditumpahkan dalam kertas-kertas ide. Tidak terkecuali sobekan karcis bus ukuran 5x10 cm pun bisa memicu ide besar. Kertas bekas struk belanja pun dilumat habis dengan ide tulisan.

Menulis dijadikan kegiatan yang menyenangkan dan tanpa beban. Mengasyikkan. Apa yang ada di pikiran tertuang dengan bebas. Sebebas-bebasnya, seluas-luasnya, sepanjang-panjangnya, dan sepuas-puasnya. Pikirkan bagaimana ide tulisan itu selalu tertuang dan tidak terlewatkan. Penyimpanan di otak kita semakin optimal dengan bantuan tulisan-tulisan ide pokok yang tertuang di struk belanja, karcis bus, atau block note kecil. Alat tulis alladzi fih (seadanya) selalu setia menemani ke mana pergi. Pekerjaan sel syaraf aktif kita maju pesat. Karena seluruh bagiannya saling terhubung dengan baik. Diingatkan memori yang tertulis di sobekan kertas-kertas ide. Kalau jarang naik bus, belanja pun di pasar tradisional, bolehlah karcis parkir jadi sasaran percobaan eksekusi let’s go write bro!

Dan kalau sampai tulisan ini anda menemukan inspirasi untuk menulis maka beberapa hal di bawah ini perlu anda pertimbangkan dan putuskan. Tetapi jika anda belum menemukan gagasan cemerlang di sini, nikmatilah halaman-halaman berikutnya dengan santai.

1. Tutup Let’s Go Write! Mulailah menulis. Lalu alamat blog ini catat agar anda bisa mengakses lagi.
2. Tutup Let’s Go Write! Ceritakan kepada teman terdekat anda tentang blog ini.
3. Tutup Let’s Go Write! Ceritakan isinya, dan link ke yang lain. Buatlah catatan tentang kejadian ini.
4. Tutup Let’s Go Write! Ceritakan isinya lalu sebarkan kepada siapa saja link ini. Tulis
5. Tutup Let’s Go Write! Ceritakan isinya, lalu print out dan hadiahkan kepada orang lain.
6. Dan akhiri kegiatan hari itu dengan menulis the best experience yang anda alami.

OTORITER



Gambar: faktailmiah.com
Gaya otoriter orang tua memang membuat seketika anak menurut apa yang dimaukan ayah ibunya. Namun ketika mereka sudah memiliki otoritas atas dirinya, tidak ada jaminan ia masih tunduk dan patuh terhadap orang tuanya.
Satu contoh kasus. Sebutlah Nano yang sering mendapat bentakan dan perintah keras dari ayahnya. Ia tampil sebagai anak yang menurut di depan orang tuanya. Namun ketika orang tuanya dinas luar kota selama beberapa hari, tiba-tiba ia menjadi liar. Seperti singa lapar yang dikeluarkan dari kandangnya. Maka perbuatan Nano menjadi-jadi. Pulang sekolah tidak lagi memperhatikan bajunya. Langsung buang tas dan main game di komputer ayahnya. Ia tahu betul ayahnya tidak ada di rumah.
Di lain kesempatan Nano mengerti ayahnya ada di rumah. Ia tidak lagi main game di rumah. Karena so pasti akan dimarahi ayahnya jika main game berlebihan tidak sesuai waktu yang sudah ditetapkan. Lantas ia berani mengambil sejumlah uang milik ayahnya yang ada di laci meja kerja untuk main game di rental tak jauh dari rumahnya.

Hikmah Kisah
Tokoh Nano dan ayah Nano barangkali itulah diri kita. Sering kali kita membuat anak tidak nyaman dengan sikap-sikap kita. Anak diperlakukan menurut ukuran kita. Padahal boleh jadi kitalah yang memperkenalkan mereka dengan game-game komputer itu. Tapi kita tidak sadar akan konsekuensinya. Anak bisa lebih cepat meraih contoh dan informasi yang ia lihat,dengar dan rasakan. Maka berhati-hatilah dalam mengasuh anak.
Nano dan ayahnya mungkin wujud keluarga kita. Menuntut anak memahami kita. Padahal semestinya kita lebih dulu memahami anak. Jangan salahkan anak, karena anak pada dasarnya lahir dalam kesuciain. Lalu orang tuanya yang memberikan sentuhan-sentuhan positif atau negatif. Mana yang lebih dominan. Sentuhan negatif atau positif.
Dalam benak saya sudah terpatri kemauan untuk mengubah pola asuh anak. Saat-saat tumbuh kembang anak mesti diperlakukan sesuai dengan usia tumbuh kembangnya. Jangan sampai kita membuat mereka 'terpaksa' mengikuti gaya hidup kita.

Selasa, 13 November 2012

JALAN MALAM (JAMAL)





smile for free
Suatu malam saya sengaja berangkat dari rumah dengan berjalan kaki. Tujuan saya menghadiri suatu rapat. Biasanya saya menggunakan motor blacky yang setia mengantar ke mana-mana. Asal ada bensinnya. Nah, malam itu saya benar-benar ingin merasakan sensasi jalan malam sejauh 1,2 kilometer. Ternyata so inspiring sepanjang jalan.
Berangkat dari rumah saya tidak lagi menekan tombol starter si blacky. Melainkan mengubah ritual menjadi menggembok gerbang rumah. Biasanya keluar rumah saya berbelok ke kiri, malam itu saya pilih belok kanan saja. Dan biasanya saya melintasi gang kampung dalam waktu sangat singkat. Ketika saya berjalan kaki, sejumlah tetangga yang masih bersantai di beranda rumah bisa saya sapa dengan senyum dan salam.
Di ujung gang saya dikejutkan seekor tikus yang baru keluar dari bak sampah. Wow gitu. Sensasional sekali.  Sebuah atraksi malam yang melintas tak terduga sebelumnya.
Di luar gang saya sudah membayangkan akan ada sensasi-sensasi lain yang bakal lebih menarik. Benar saja. Keluar dari gang, saya harus menunggu dua kendaraan besar berpapasan melintas. jalan yang tidak begitu lebar membuat salah satu kendaraan harus mengalah.
Biasanya jalan ini saya lewati hanya dalam waktu kira-kira 1 menit dengan sepeda motor. Berhubung saat ini saya berjalan kaki, harus saya tempuh hampir 5 menit. Dan selama hampir lima menit itu pula saya dihinggapi rasa penasaran apa-apa yang saya lewati.
Seorang penjaga konter air isi ulang duduk sambil memainkan handphone layar sentuh. Pemuda belasan tahun itu nampak senyum-senyum berhadapan dengan gadget itu. Mungkin saja ia sedang membaca update status lucu. Ya. Menarik sekali anak muda itu. Semoga senyumnya benar-benar memberikan keceriaan hidupnya.
Setelah melintasi pemuda itu. Suguhan berikutnya warung soto Lamongan yang begitu ramai pembeli. Parkir di depan warung sepanjang 15 meter penuh terisi. Luar biasa. Keistiqamahan pedagang soto menginspirasi pembaca tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Padahal setahun lalu warung soto itu sempat diisukan jelek. Lantaran kurang menjaga kebersihan peralatan masaknya. Hingga dikabarkan ada bangkai anak tikus yang terangkut disajikan kepada pembeli. Subhanallah.


Saya harus menyeberang. Volume kendaraan cukup banyak. Wush, sebuah motor sport melaju kencang melintasi sejumlah penyeberang jalan. Deg, deg, plas jantungku. Nyambung lagi ye . . .