![]() |
| Gambar: faktailmiah.com |
Satu contoh kasus. Sebutlah Nano yang sering mendapat bentakan dan perintah keras dari ayahnya. Ia tampil sebagai anak yang menurut di depan orang tuanya. Namun ketika orang tuanya dinas luar kota selama beberapa hari, tiba-tiba ia menjadi liar. Seperti singa lapar yang dikeluarkan dari kandangnya. Maka perbuatan Nano menjadi-jadi. Pulang sekolah tidak lagi memperhatikan bajunya. Langsung buang tas dan main game di komputer ayahnya. Ia tahu betul ayahnya tidak ada di rumah.
Di lain kesempatan Nano mengerti ayahnya ada di rumah. Ia tidak lagi main game di rumah. Karena so pasti akan dimarahi ayahnya jika main game berlebihan tidak sesuai waktu yang sudah ditetapkan. Lantas ia berani mengambil sejumlah uang milik ayahnya yang ada di laci meja kerja untuk main game di rental tak jauh dari rumahnya.
Hikmah Kisah
Tokoh Nano dan ayah Nano barangkali itulah diri kita. Sering kali kita membuat anak tidak nyaman dengan sikap-sikap kita. Anak diperlakukan menurut ukuran kita. Padahal boleh jadi kitalah yang memperkenalkan mereka dengan game-game komputer itu. Tapi kita tidak sadar akan konsekuensinya. Anak bisa lebih cepat meraih contoh dan informasi yang ia lihat,dengar dan rasakan. Maka berhati-hatilah dalam mengasuh anak.
Nano dan ayahnya mungkin wujud keluarga kita. Menuntut anak memahami kita. Padahal semestinya kita lebih dulu memahami anak. Jangan salahkan anak, karena anak pada dasarnya lahir dalam kesuciain. Lalu orang tuanya yang memberikan sentuhan-sentuhan positif atau negatif. Mana yang lebih dominan. Sentuhan negatif atau positif.
Dalam benak saya sudah terpatri kemauan untuk mengubah pola asuh anak. Saat-saat tumbuh kembang anak mesti diperlakukan sesuai dengan usia tumbuh kembangnya. Jangan sampai kita membuat mereka 'terpaksa' mengikuti gaya hidup kita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar