Belajar Membawa Beban
Suatu malam Ukkaasyah ingin ikut ayah membeli gas. Isi ulang
tabung ‘melon’ di tetangga sebelah. Pada awalnya ayah berpikir anak-anak tidak
perlu ikut. Alasannya supaya cepat, tidak ribet. Ukkaasyah masih meminta ikut.
Lalu ayah pun berubah pikiran. Insya Allah ini bias dijadikan pembelajaran buat
dia. Temanya adalah belajar membawa beban.
Sepeda lipat dikeluarkan. Di atas boncengan itu ayah
letakkan tabung hijau yang masih kosong. Ukkaasyah masih berdiri di samping
sepeda. Setelah ayah pastikan posisi tabung seimbang, “Mas Ukkaasyah, coba ayah
akan mendampingi, kamu yang menuntun sepeda”, pinta ayah. Menggunakan sepeda
sebagai alat pembawa beban tabung memang lebih ringan. Anak-anak tidak
mengangkat beban diluar kesanggupannya. Dengan sepeda itu anak belajar
keseimbangan. Usia kelas 3 SD ayah rasa sudah mampu melakukannya. Sebagai
konsekuensinya, orang tua harus bersedia mendampingi saat di awal-awal
melakukannya. Insya Allah dua-tiga kali ia melakukan hal yang sama berikutnya
akan mudah dan lancar dengan sendirinya.
ANak-anak perlu dolatih membawa beban sesuai dengan tahapan
usianya. Mereka harus ditempa dengan latihan-latihan mengahadapi masalah.
Sekali lagi sesuai dengan batas kesanggupan di usia mereka. Islam mendidik umatnya
dengan pelaksanaan kewajiban sesuai dengan batas kesanggupannya. Didiklah
anak-anak kita dengan belajar membawa beban sesuai dengan kesanggupan mereka. Wallahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar