Ketika . . .
Seseorang menghadapi permasalahan
ia harus siap. Artinya jauh sebelumnya harus memperiapkan diri. Kehidupan ini
bakal menantang arus. Memahami hakekat kehidupan ini sangat berpengaruh dalam
bersikap terhadap ujian. Jika orang memahami hidup ini sebagai tempat
bersenang-senang dan akhir dari segalanya adalah kematian, maka dapat
dipastikan seluruh kehidupannya dicurahkan untuk menggapai kesenangan.
Aktivitas fisik maupun mental tertuju pada tujuan senang. Tidak peduli apakah
ia merugikan kesehatan atau tidak yang penting senang.
Mungkin sebagian lain berbpendapat
bahwa hidup harus berbuat baik. Tujuannya untuk mendapat kebaikan dari orang
lain. Karena pada prinsipnya siapa ingin dibaiki orang lain maka berbuatlah
kebaikan untuk orang lain. Adanya timbal balik yang seimbang. Mengharap sesuatu
dari yang kita kerjakan.
Sementara ada orang-orang yang
tulus melakukan kebaikan. Mereka tenang dalam bekerja untuk sebuah tujuan
mulia. Tidak mengharap balasan dari manusia. Rela dengan segala konsekuensi
yang diterima. Karena keyakinannya ada pada nilai kebaikan pasti terbalas
dengan kebaikan pula. Bukan pengharapan kepada makhluk lemah seperti manusia.
Kebaikan demi kebaikan dilakukan tanpa dipengaruhi ada dan tidaknya pujian.
Untuk sebuah kebaikan, niatkan tulus mengharap ridha Allah SWT. Faidza faraghta
fanshab wa ila rabbika farghab.
Sunday, 29 Thoul Ki'dah, 1425 H
[05:23:31 am]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar