Malam ini jadi beda. Terang bulan
susu yang terjual di rombong tidak sampai setengahnya. Menyikapi keadaan itu
Allah SWT punya cara menghibur hamba yang usahanya dirundung ‘paceklik’.
Becak
diparkir seratus meter dari warung kopi mas Zainul. Duduk di bangku warung
seorang pria. Kerut garis wajahnya dan sejumlah gigi yang sudah tanggal membuat
saya berkesimpulan bahwa pria itu usianya sekitar lima puluh tahun.
Tahu
saya seorang penjual terang bulan susu ia bertutur cukup filosofis.
“Yang
penting telaten. Jangan berpikir untung. Jangankan untung, ditengok orang saja
itu sudah untung!”, ucapnya.
Ia
begitu mengalir menceritakan riwayat hidupnya yang penuh liku dan jurang.
Ayahnya seorang usahawan sukses. Tiap anaknya mendapat satu rumah. Kios di
pasar ada delapan juga untuk kedelapan anaknya. Namun, kesuksesan sang ayah
bukan jaminan kesuksesan sang anak.
Sang
ayah dengan sepak terjang dunia bisnis yang ampuh mampu memberikan sesuatu yang
lebih buat keluarganya. Tapi, pria yang duduk di bangku warung di sebelah saya,
justru mendapat ujian berat.
“Istri
saya selingkuh. Saya ceraikan. Dan empat anak saya besarkan sendiri. Dari
becak, barang bekas, bersih-bersih, dan pekerjaan halal lain, mereka saya
rawat. Alhamdulillah. Semua sekolah”, katanya
sambil sibuk membuka bungkus rokok.
“Hidup
ini kadang di atas, kadang di bawah. Bagi saya seperti kata D’ Masiv, syukuri
apa yang ada, hidup adalah anugrah”, dengan
melagukan sebaris tembang yang dipopulerkan D’ Masiv.
Begitulah
hidup ini. Semua pasti ada hikmahnnya. Jangan berhenti bersyukur, karena
kesyukuran itu menjadi pintu gerbang nikmat-nikmat Allah SWT yang lainnya.
Segera sambut seruan-Nya. Jangan menunda. Wallahu a’lam.
[AlAhad,
Thoul Ki'dah 05, 1432]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar