Minggu, 23 Oktober 2011

SALAH TANGKAP


Satu problem akan melahirkan masalah baru yang lebih rumit jika keputusan diambil secara serampangan. Boleh jadi pertimbangan yang dipakai mengandung cacat ‘permanen’ yang tidak bisa dimaafkan. Ada sudut pandang yang bisa dibenarkan, diseleksi, dimaklumi, maupun cukup didiamkan. Dari sebuah peristiwa indah yang dialami sejumlah insan.
Duduk di suatu jabatan adalah amanah. Tugas dan tanggung jawab harus dijalankan dengan baik. Berusahalah untuk menyempurnakan apa yang menjadi kewajibannya. Bila terjadi kesalahan, ketidaksempurnaan, kekurangan, maupun ketidakpuasan atas kinerja yang dilakukan apa yang harus dilakukan?
Baik yang mengemban amanah maupun pemberi amanah keduanya ada peran aktif. Berkomunikasi dengan santun. Berikan arahan dan bimbingan agar tugas-tugasnya dapat dijalankan dengan baik. Tegur dan ingatkan agar tetap berusaha menjalankan amanahnya dengan baik. Jangan bosan-bosan mengingatkan. Jangan berhenti mengarahkan kepada kebaikan. Tetaplah menjadi pemimpin yang bijak dalam proses pembinaan. Karena setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia pimpin.
Sebagai pemimpin memiliki wewenang untuk memberi tugas atau membebastugaskan dari suatu tanggung jawab. Perlu ditegaskan pemimpin yang baik tentu akan berusaha memberikan pengertian yang utuh atas pemberian tugas maupun pembebastugasan atas suatu urusan. Ketika amanah itu dijalankan tidak sesuai harapan, maka peran pemimpin sebagaimana telah disebut di atas. Ingatkan dan bimbing untuk menjadi lebih baik. Itu mulia.
Namun sikap keliru jika pemimpin tanpa ada komunikasi yang dapat dimaklumi mengambil hak mereka yang diberi amanah. Mereka yang menjalankan tugas tentu mempunyai hak dan kewajiban. Tatkala kewajiban terlaksana kurang sempurna lantas secara sepihak haknya diambil.
Ini sewenang-wenang dan zhalim. Sewenang-wenang atas posisi dan kedudukan sebagai pemimpin yang kapan saja bisa mengambil keputusan tanpa mengambil pertimbangan dari pihak-pihak terkait. Zhalim karena telah mengambil hak orang lain dengan cara bathil. Cara ini menunjukkan kelemahan dalam memimpin. Dalam pikiran pemimpin itu hanya memprioritaskan hak-hak yang harus ia dapatkan. Bukan apa kewajiban sebagai pemimpin yang harus ditunaikan.
Model kepemimpinan seperti ini akan membawa kepada keterpurukan bahkan kehancuran. Sebab sebagai pemimpin ia tidak mampu mengendalikan diri dalam menyikapi persoalan. Ia dikendalikan hawa nafsu yang minta semua yang menjadi bawahannya harus taat dan menjalankan aturan dengan baik. Tapi lupa dengan kewajiban dirinya. Sibuk menghukumi bawahan, lupa akan kewajiban dirinya. Inilah pemimpin tersesat, tidak tahu arah dan tujuan memimpin. Kesasar!
[Al-Khamis, Ramadan 19, 1432 H]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar