"Ustadz minta tolong", kata seorang santri kepada saya. "Mudah-mudahan saya bisa bantu", sahut saya singkat. Dua santri yang menemui saya saling memandang. Seperti mengisyaratkan siapa yang hendak mengutarakan maksudnya. Akhirnya terbukalah pembicaraan itu dengan satu syarat saya tidak boleh menceritakan kepada siapapun.Aliran kisahnya nampak emosional dan terputus-putus. Menceritakan bahwa mereka yang nota bene adalah kelas tertinggi merasa dilecehkan oleh adik kelasnya lewat update status di fesbuk. Waaaw. Dan santri ini mewakili teman-temannya meminta bantuan saya untuk mencarikan barang bukti (BB) di status terdahulu.
"Lalu masalah sesungguhnya itu apa?", saya berusaha menelusuri kepekaan mereka. Apakah masalah itu timbul tidak mempunyai latar belakang? Lalu apa yang dipermasalahkan? Jadinya kita tidak salah sikap. "Saya berpikir bahwa sepertinya saya bukan orang yang tepat untuk membantu kalian dalam hal ini", ungkap saya. Yang jadi solusi adalah diri kalian sendiri. Insya Allah itu lebih berkesan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar