Anak-anak pandai
mengungkapkan bahasa cinta. Tapi kadang orang tua tidak merasa. Mereka berlari
dari kejauhan menghampiri ayah yang baru pulang dari kerja adalah bahasa
cintanya. Tapi apa balasannya, cintanya kadang bertepuk sebelah tangan. Sang
ayah justru menampiknya. Meski tidak terlalu kasar, senyum buah hati yang lepas
tiba-tiba terhalang ‘kelelahan’ ayah.
Wahai ayah
bunda. Selelah apapun berikan cinta dan senyum untuk anak-anak kita. Hiasi
hidupnya dengan kelapangan hati kita. Lelah dan letih rasanya masih bisa diatur
dengan baik. Rendahkan suara. Sambil membuat ekspresi orang letih dengan tetap
meraih pelukannya. “Alhamdulillah, ayah selamat sampai di rumah. Bagaimana
kakak hari ini?”, kita mulai membalas cintanya.
Mungkin anak
kita akan menceritakan beberapa peristiwa yang dialaminya siang itu. Tanpa
mengurangi minat mendengar celoteh anak, kita mengarahkan pada kegiatan yang
nyaman buat kita dan anak-anak. “Yuk, kita di dalam sambil ayah mendengar
cerita kakak, ayah juga butuh istirahat beberapa saat. Bagaimana?”, kalimat
ajakan yang membuat mereka tetap merasakan penghargaan terhadap dirinya.
Semoga ayah
bunda mampu menangkap gelombang cinta anak-anak kita. Mereka sesungguhnya amat
mencintai kita. Mereka sangat menyayangi kita. Namun seringkali kita para orang
tua ‘memaksa’ jalan pikiran ini berlawanan dengan alur beroikir anak-anak. Maka
terjadilah orang tua yang zhalim kepada anak-anaknya. Membentak, memarahi,
memukuli, bahkan ada yang sampai menghilangkan nyawa anak itu. Na’udzubillah. (nas)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar