Rabu, 02 Januari 2013

BAHASA CINTA ANAK KITA


Ukkaasyah dan Utbah di Pasar Kambing Bangil @2011
Anak-anak pandai mengungkapkan bahasa cinta. Tapi kadang orang tua tidak merasa. Mereka berlari dari kejauhan menghampiri ayah yang baru pulang dari kerja adalah bahasa cintanya. Tapi apa balasannya, cintanya kadang bertepuk sebelah tangan. Sang ayah justru menampiknya. Meski tidak terlalu kasar, senyum buah hati yang lepas tiba-tiba terhalang ‘kelelahan’ ayah.
Wahai ayah bunda. Selelah apapun berikan cinta dan senyum untuk anak-anak kita. Hiasi hidupnya dengan kelapangan hati kita. Lelah dan letih rasanya masih bisa diatur dengan baik. Rendahkan suara. Sambil membuat ekspresi orang letih dengan tetap meraih pelukannya. “Alhamdulillah, ayah selamat sampai di rumah. Bagaimana kakak hari ini?”, kita mulai membalas cintanya.
Mungkin anak kita akan menceritakan beberapa peristiwa yang dialaminya siang itu. Tanpa mengurangi minat mendengar celoteh anak, kita mengarahkan pada kegiatan yang nyaman buat kita dan anak-anak. “Yuk, kita di dalam sambil ayah mendengar cerita kakak, ayah juga butuh istirahat beberapa saat. Bagaimana?”, kalimat ajakan yang membuat mereka tetap merasakan penghargaan terhadap dirinya.
Semoga ayah bunda mampu menangkap gelombang cinta anak-anak kita. Mereka sesungguhnya amat mencintai kita. Mereka sangat menyayangi kita. Namun seringkali kita para orang tua ‘memaksa’ jalan pikiran ini berlawanan dengan alur beroikir anak-anak. Maka terjadilah orang tua yang zhalim kepada anak-anaknya. Membentak, memarahi, memukuli, bahkan ada yang sampai menghilangkan nyawa anak itu. Na’udzubillah. (nas)  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar